bangkepkab.go.id

Monumen Trikora Jayawijaya di Salakan

Salakan,bangkepkap.go.id, Salakan adalah Ibu Kota Kabupaten Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Sulawesi Tengah, Kota Salakan terbagi atas 4 Desa yaitu, Desa Tungabe, Desa Baka, Desa Tompudau dan Desa Bonggana. Kota ini terletak di Kecamatan Tinangkung, berada di pinggir laut di mana sarana transportasi adalah Dermaga Salakan untuk menuju Luwuk Ibukota Kab. Banggai.

Untuk mencapai Kota Salakan ada beberapa alternatif  rute yang bisa dipilih,

  • rute : Jakarta-Makasar-Luwuk,
  • rute : Jakarta-Palu-Luwuk,
  • rute : Jakarta-Makassar-Kendari-Banggai-Bitung.

Rute Palu menuju ibukota Kabupaten Banggai Luwuk ditempuh melalui jalan darat (Bus/dengan kendaraan carteran). Memakan waktu kurang lebih 16 jam karena jarak Palu – Luwuk sekitar 350 Km. Dan selanjutnya dari Kota Luwuk, untuk mencapai Kota Salakan kita menggunakan transportasi kapal kayu, Kapal Cepat dan Kapal Feri yang secara reguler beroperasi tiap hari,

Kota Salakan dari Monumen Trikora Jayawijaya

Kota Salakan mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Di sinilah lokasi armada kapal perang Indonesia pada peristiwa Trikora bersembunyi. Baik kapal perang Angkatan Laut Indonesia, kapal niaga yang ikut membantu penyerangan, sampai kapal selam berkumpul di sini menunggu komando. Posisinya memang sangat strategis. Dekat dengan Papua dan terlindungi dengan baik oleh bentuk Pulau Peling yang seperti huruf U dan adanya Pulau Bangkalan di depannya.

Untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut, dibangunlah sebuah Monumen Trikora Jayawijaya  dikenal dengan Tugu Trikora di Salakan. Monumen Trikora Jayawijaya kokoh berdiri di puncak bukit Kota Salakan. Monumen setinggi 17 meter yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 12 Agustus 1995 ini dibangun persis menghadap Teluk Ambelang dan Pulau Bakalan. Di kaki bukit, terdapat prasasti berisi pernyataan terima kasih dari masyarakat Tinangkung kepada Presiden Soeharto. Selain itu, tertulis pula kapal-kapal TNI-AL dan pasukan dari berbagai kesatuan yang dilibatkan dalam operasi militer.

Parasti bertuliskan nama kapal-kapal TNI-AL dan pasukan dari berbagai kesatuan

Untuk mencapai monumen berbentuk segitiga ini, pengunjung harus menapaki 214 anak tangga. Di sekitar tugu terdapat halaman berteras sebagai tempat mengenang peristiwa pada masa lalu, yaitu sebuah simbol perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya merebut Irian Barat (Papua) dari Belanda. Dari tugu ini kita dapat melihat seluruh ‘kota’ Salakan dan gugusan pulau di depannya. Indah sekali, walau pada awalnya akan cukup membuat ngos-ngosan untuk menuju ke lokasi tugu berada. Sayangnya, kondisinya tidak begitu terawat. Banyak rumput liar pada tangga, jalan masuk menuju tugu, dan di bawah tugu bersejarah itu sendiri.

Selain Monumen Trikora Jayawijaya, Juga dijumpai beberapa nama jalan dalam Kota Salakan dari nama kapal kapal yang pernah perlabuh di teluk Bongganan. Seperti KRI.Teluk Bayur, KRI Imam Bonjol, KRI Pulau Rusa dan lainnya. Dalam Teluk yang mempesona dipandang mata, yaitu Teluk Bongganan memisahkan Desa Baka dan Desa Bongganan.

Teluk Bongganan

Kades Bongganan Bapak Masno S Nyaman, kepada media menceritakan adanya Jln KRI Teluk Bayur di Desa Baka, sejarah mencatat saat pembebasan Irian Barat, ada banyak Kapal yang berlabuh di Teluk Bongganan termasuk Kapal KRI Teluk Bayur.

Historis sejarah nama Desa Bongganan di ambil Bone Boan = Tanah bau busuk,
dari Bahasa Banggai Konon dalam sejarah Tanah bau busuk/bau bangkai manusia korban perang dan berdasarkan cerita orang terdahulu, ada yang mengatakan Bongganan seorang Tokoh Pejuang saat itu ungkap kades mengakhirinya.(Mad/Elsi Saputri)

 

 

 

There are no comments yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked (*).